ALFISYAH



KEMBANGKAN PERPUS DIGITAL


MEMBACA buku menjadi kebutuhan yang tak bisa di lepaskan oleh mahasiswa. Selain sebagai referensi untuk mengerjakan tugas, juga menambah wawasan. Perkembangan teknologi yang pesat semakin memberikan kemudahan untuk mencarai referensi, yakni melalui perpustakaan digital.


 “Saya sedang mengembangkan pelayanan berbasis digital,” kata Alfisyah Nurhayati MSI kepala Perustakaan Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Sehingga, ketika ada mahasiswa membuttuhkan referensi, bisa melaluisistem digital, tanpaharus memegang langsung bukunya.
Perempuan kelahiRAN Jember 16 Agustus 1977 tersebut menilai perpustakaan menjadi rujukan utama mahasiswa dalam membaca. Satu harinya, ada sekitar 1.000 mahasiswa yang berkunjung.

 Untuk itulah, alumni Pasca Sarjana Universitas Indonesia tersebut terus berupaya agar sarana perpustakaan memandai. “Tahun ini pengembanagan koleksi berbasis prodi maupun insitut, visinya sebagai pusat kajian Islam Nusantara berbasis pesantren,” terangnya.

 Mulai dari buku, e-book, e-jurnal, dan penggandaan koleksi lama yang berkaitan dengan tema visi insitut dan program studi baru.

Perpustakaan yang dipimpin olehnya juga memberlakukan program pengecekan tulisan pada seluruh karya civitas akademika . mulai dari mahasiswa hingga dosen. Tujuannya untuk menghindari plagidasi yang dilakukan oleh warga akademik.

Tahun ini, lanjut mantan aktivis PMII tersebut, sedang membuat Pandalungan  Corner sebagai di Perpustakaan IAIN Jember. Kegiatannya beragram, mulai dari kegiatan keilmuan berupa diskusi rutin mingguan oleh dosen dan mahasiswa. Selain itu juga riset di daerah lingkungan Tapalkuda.

 Pihaknya sudah menyediakan website perpustakaan sendiri dan koleksi buku yang cukup lengkap. Mahasiswa bisa menggunakannya melalui komputer maupun android. “ Tahun depan mahasiswa sudah tak perlu lagi mengumpulkan skripsi, tetapi sudah bisa unggah sendiri di website, perpustakaan hanya melakukan vertivikasi saja,” jelasya.

Diakuinya, perpustakaan menjadi kebutuhan mahasiswa yang tak bisa di tinggalkan. Sejak orientasi pendidikan sudah sudah disampaikan bahwa perpustakaan menjadi rumah kedua. “ Dosen juga sering memberi tugas mahasiswa untuk ke perpustakaan,” tuturnya. Misal kajian kitab kuning dan tugas studi literatur.

Perempuan yang akrab disapa Alfis tersebut terus berupaya  agar fasilitas perpustakaan terus berkembang. Sehingga kebutuhan mahasiswa atau dosen bisa terpenuhi. Selain itu agar merasa nyaman membaca buku.  (gus/cl/hdi)

Sumber : JP-RJ-Kamis 26 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESKA WIEDYANA

DIAN PRAMESTI SUWASONO