IRAE CHAIRINI MEGAWATI
Dorong UMKN Bisa Mandiri
NAMANNYA Iriane Chairini Megawati. Mungkin kebanyakan orang hanya mengenalnya sebagai pemilik Rumah Batik Rolla. Namun , di balik status itu, belakangan Iriane tengah berjuang membangunkan pelaku UMKM rintisan di Jember untuk lekas berlari.
Kepada anggota forumnya yang kini mencapai 600 pelaku UMKM , dia kerap kali berpesan , bahwa keputusan menjadi pengusaha merupakan keputusan untuk mandiri , berdikari . Sehingga , jangan ada pikiran untuk hanya berpaku dan bergantung pada tangan pemerintah .”Pemerintah itu tangannya terbatas,” ujarnya.
Hal lain yang sudah dan akan dilakukan adalah kegiatan gelar produk. Gelar produk ,menurutnya,penting untuk mengukur penerimaan pasar terhadap produk masing-masing pelaku UMKM.
Jika ternyata sambutan pasa kurang bagus , artinya mesti ada yang harus di evaluasi. Sebaliknya , jika penerimaannya bagus , berarti layak dilanjutkan .”Gelar produk yang kami lakukan arahnya untuk mencari kekurangan dan kelebihan ,” tuturnya.
NAMANNYA Iriane Chairini Megawati. Mungkin kebanyakan orang hanya mengenalnya sebagai pemilik Rumah Batik Rolla. Namun , di balik status itu, belakangan Iriane tengah berjuang membangunkan pelaku UMKM rintisan di Jember untuk lekas berlari.
Persisnya pada 27
september kemarin , dia dibantu sejumlah rekan seperjuangannya mendeklarasikan
berdirinya Forum UMKM Jember Baru Jember Bersatu dan Bantuan Hukum. Melalui
forum itulah ,dia berusaha membangun kemandirian para pelaku UMKM start up di Jember.
Semua kata yang menyusun nama forum itu, baginya memiliki
arti. Jember baru artinya, pelaku UMKM J ember harus melakukan pembaharuan dan
mulai menerapkan metode baru. Jika ingin berkembang, jangan terpaku pada metode
lama yang cenderung menunggu bola.”Sekarang sudah eranya menjemput bola,”
ujarnya menggebu-gebu.


Permasalahan yang kerap dialami pelaku UMKM , terutama
pendatang baru , biasanya bingung saat hendak mengakses permodalan, juga
perizinan dari pemerintah. Urusan terkait perjanjian juga kerap menjadi kendala
lain. Lantas ,melalui wadah yang dimotorinya itulah Iriane dan kawan-kawannya
memberi arahan. “Itulah kenapa ada istilah bantuan hukum pada nama forum kami ,
“ terangnya.
Kepada anggota forumnya yang kini mencapai 600 pelaku UMKM , dia kerap kali berpesan , bahwa keputusan menjadi pengusaha merupakan keputusan untuk mandiri , berdikari . Sehingga , jangan ada pikiran untuk hanya berpaku dan bergantung pada tangan pemerintah .”Pemerintah itu tangannya terbatas,” ujarnya.
Beberapa pendekatanpun lantas dilakukan untuk mencapai
tujuan percepatan itu. Salah satunya dengan menggandeng empat perguruan tinggi
untuk berpikir dan mendampingi dalam hal manajemen, pemberdayaan SDM ,mengajari
membuat proposal bantuan permodalan,
hingga pemberian pelatihan.
Hal lain yang sudah dan akan dilakukan adalah kegiatan gelar produk. Gelar produk ,menurutnya,penting untuk mengukur penerimaan pasar terhadap produk masing-masing pelaku UMKM.
Jika ternyata sambutan pasa kurang bagus , artinya mesti ada yang harus di evaluasi. Sebaliknya , jika penerimaannya bagus , berarti layak dilanjutkan .”Gelar produk yang kami lakukan arahnya untuk mencari kekurangan dan kelebihan ,” tuturnya.
Dibalik semua itu , sejumlah kegiatan atau aktivitas yang
menjadi program kerja Forum UMKM Jember Baru Jember Bersatu dan Bantuan Hukum
itu merupakan refleksi dari pengalaman Iriane selama awal-awal merintis usaha
batiknya dulu. Sebelum lempeng seperti
sekarang, dulu dia kerap mengalami kesulitan dalam banyak hal ,mulai
dari membangun brand , memasarkan , hingga mengakses permodalan. Untuk itu ,
lini dia berpikir jika kiat suksesnya mesti ditularkan kepada para pelaku UMKM pendatang baru agar tidak
perlu melewati kesuliatan sepertinya.(was/cl/hdi)
Sumber : JP-RJ Rabu 11 Oktober 2017
Komentar
Posting Komentar