DIAN PRAMESTI SUWASONO



Kampanyekan Permainan Tradisional



      PERMAINAN tradisional yang semakin ditinggalkan membawa keprihatinan sendiri bagi Dian Pramesti Suwasono. Sehingga dirinya mengajak anak-anak untuk kembali ke permainan tradisional. Sebab, kecanggihan tekhnologi tetap kerap menjerumuskan anak pada kegiatan negatif.


      Perempuan yang akrab disapa Dian tersebut menilai orang tua harus waspada perkembangan zaman. Sebab,banyak anak sekrang yang mulai beralih pada permainan modern. Padahal, manfaatnya hamper tidak ada.”Sekarang permainan berbasis teknologi sudah seperti menjadi gaya hidup,” katanya.

       Menurut dia, permainan tradisional menyimpan banyak makna dan memiliki nilai positif. Missal,dalam pembentukan karakter anak. “Permainan tradisional mengajarkan anak kerjasama,jujur dan sportif,” akunya.

       Berbeda dengan permainan modern, seperti game online yang membuat anak bersikap individualis. Sebab dia hanya bermain dengan teknologi,tidak ada komunikasi dengan teman-temannya. Akibatnya, dia bisa menjadi acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar.

      Selain itu, ucap lulusan Universitas Brawijaya Malang tersebeut, permainan tradisional merupakan kekayaan budaya Indonesia. Sedangkan anak sekarang banyak yang tidak tau dengan potensi tersebut. “Ini salah satu kekayaan kita, perlu dibangkitkan lagi pada anak-anak,” jelasnya.

       Untuk itulah, Dian bersama wali murid yang pernah menjadi pengurus komite TK Alfurqan membuat kelompok untuk anak-anak  kembali di ajak pada permainan tradisional. “Kami yang sudah purna tugas berkumpul ingin membuat kegiatn positif untuk masyarakat luas,” tutur perempuan yang tinggal di Jalan Hayam Wuruk Sempusari tersebut.

       Akhirnya membentuk organisasi dalam bentuk koperasi yang mengakomodasi segala bentuk kreativitas pada2016 lalu, yakni Shakila. Dari sanalah, mereka memulai untuk memberikan wadah bagi anak-anak yang ingin kembali pada permainan tradisional.

      Harapannya, anak-anak bisa tumbuh berkembang dengan baik sesuai dengan harapan orang tua. Menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman, bukan terperdaya pengaruh nilai negative teknologi.(gus/cl/hdi)

Sumber : JP-RJ-Selasa 17 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESKA WIEDYANA